Minggu, 01 November 2015



NAMA          : LINDA FITRI ANDRIYANI
NIM               : K2513040
PRODI          : PTM/B
MATKUL     : TURBIN

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN DI INDONESIA

A.    Energi Angin (Wind Energy)
Energi yang dapat diperbarui berasal dari matahari kecuali panas bumi. Bentuk tidak langsung dari energi matahari adalah angina, karena matahari mempengaruhi pemanasan yang tidak merata pada kerak bumi, dimana hal tersebut mempengaruhi angin.
Pertimbangan konservasi energi dan lingkungan hidup memang menuntut kita untuk segera dapat memanfaatkan energi terbarukan yang tersedia dengan mudah dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan energi fosil. Tetapi seperti kita ketahui,khususnya di Indonesia, pemanfaatan potensi energi terbarukan seperti air, angin, biomasa,panas bumi, surya dan samudera, sampai saat ini masih belum optimal. Misalnya, untuk kasus energi angin, sampai dengan tahun 2004, kapasitas terpasang dari pemanfaatan tenaga angin hanya mencapai 0.5 MW dari 9.29 GW potensi yang ada.
Secara umum, pemanfaatan tenaga angin di Indonesia memang kurang mendapat perhatian. Sampai tahun 2004, kapasitas terpasang dari pemanfaatan tenaga angin hanya mencapai 0.5 MW dari 9.29 GW potensi yang ada (DESDM, 2005). Padahal kapasitaspembangkitan listrik tenaga angin di dunia telah berkembang pesat dengan laju pertumbuhan kumulatif sampai dengan tahun 2004 melebihi 20 persen per tahun. Dari kapasitas terpasang 5 GW pada tahun 1995 menjadi hampir 48 GW pada akhir tahun 2004 tersebar dalam 74,400 turbin angin di sekitar 60 negara (BTM Consults ApS, 2005).
Gambar Laju pertumbuhan angina di Indonesia
(sumber: kincir_angin.pdf)
Syarat-syarat energi angin yang dapat digunakan :
(sumber:http://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/2071-pembangkit-listrik-tenaga-angin-di-indonesia)
(sumber: ://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/2071-pembangkit-listrik-tenaga-angin-di-indonesia)
Angin pada kelas nomer 3 adalah batas minimum syarat angin yang dapat digunakan dan kelas nomer 8 adalah batas maksimum syarat angin yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik.
B.     Pembangkit Listrik   Tenaga Angin
Hal yang menghasilkan arus listrik melalui kincir angina disebut Wind Power Sistem. Pada hal ini tiupan angina dimanfaatkan agar motor listrik dapat berputar. Angin yang berhembus ditangkap oleh baling-baling, dan dihasilkan putaran motor yang selanjutnya diubah menjadi energi listrik dari putaran baling-baling tersebut.
(Sumber :Energi_angin(wind_energy).pdf)
Wind Power System ini terdiri dari empat bagian utama, yaitu : Rotor, Transmisi, Elektrikal dan juga tower.
C.    Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia
Potensi energi panas laut yang baik terletak pada daerah antara 6- 9° lintang selatan dan 104-109° bujur timur. Di daerah tersebut pada jarak kurang dari 20 km dari pantai didapatkan suhu rata-rata permukaan laut di atas 28°C dan didapatkan perbedaan suhu permukaan dan kedalaman laut (1.000 m) sebesar 22,8°C. Sedangkan perbedaan suhu rata-rata tahunan permukaan dan kedalaman lautan (650 m) lebih tinggi dari 20°C. Dengan potensi sumber energi yang melimpah, konversi energi panas laut dapat dijadikan alternatif pemenuhan kebutuhan energi listrik di Indonesia. Energi pasang surut Wilayah Indonesia terdiri dari banyak pulau.
Kawasan Indonesia mempunyai kawasan pesisir yang melimpah sehingga mempunyai potensi angin yang melimpah, tetapi total kapasitas yang terpasang kurang dari 800 kilowatt pada sistem konversi angin saat ini. Hal ini memungkinkan dimanfaatkannya energy pasang surut di Indonesia karena cukup banyak selat sempit yang membatasi pulau-pulau di Indonesia maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya sangatlah mengguntungkan karena dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan tenaga listrik.
5 kincir angin pembangkit listrik, masing-masing 80 kilowatt (KW) yang terdapat di Indonesia telah di bangun. Pada tahun 2007, tujuh unit kincir angin yang memiliki kapasitas yang sama telah di bangun di empat lokasi yang berbeda-beda. Masing-masing di Sulawesi Utara dua unit, Pulau Selayar tiga unit, Bangka Beliting, Nusa Penida dan Bali masing-masing satu Unit. WhyPgen dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tanggal 14 Mei 2013 mennyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Potensi tenaga angin yang tersedia di Indonesia mencapai 9.286 MW akan tetapi sampai saat ini energi angin yang telah digunakan lebih kurang sebesar 2 MW (BMKG, 2013), pada presentasinya.
Daerah di Indonesia yang potensial adalah sebagian Pulau Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Papua, kepulauan di Sulawesi, konversi energi siklus panas laut sebagai pembangkit tenaga listrik, karena pasang surutnya bisa lebih dari lima meter. Beberapa faktor yang mempengaruhi mekanisme pusat listrik energi pasang surut diantaranya : lamanya bertiup, arah angin, kecepatan, dan luas daerah yang dipengaruhi. Oleh karena itu, kuncinya adalah dalam penelitian mengenai energi ini faktor meteorologi/geofisika. Pada pemanfaatan energi angin sebagai pembangkit listrik  memerlukan daerah yang cukup luas untuk menampung air laut (reservoir area). Terdapat sisi positif dari konversi energi ini yaitu tidak menimbulkan polutan bahan-bahan beracun baik ke air maupun udara, sehingga aman bagi lingkungan. Masih ada energi samudera lain yaitu energi gelombang, selain panas laut dan pasang surut,


Gambar 1. Aliran angin di Indonesia
Angin di wilayah Indonesia pada umumnya bergerak dari arah timur menuju arah barat daya dengan kecepatan angin antara 2.5 m/s sampai dengan 7.5 m/s. Kecepatan angin 7.5 m/s di Indonesia terdapat di daerah Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Selatan Nusa Tenggara Timur, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Banda, Laut Flores dan Perairan Selatan Merauke.
Sistem konversi energi yang terjadi akibat perbedaan suhu di permukaan dan di bawah laut menjadi energi listrik adalah teknologi yang diperlukan konversi energi panas laut. Di wilayah khatulistiwa konversi energi panas laut untuk pembangkitan listrik mempunyai potensi yang sangat besar. Karena, sepanjang tahun di daerah khatulistiwa suhu di bawah laut turun 5-7°C pada kedalaman lebih dari 500 meter sedangkan suhu permukaan laut berkisar antara 25-30°C. Terdapat dua siklus konversi energi panas laut, yaitu siklus Rankine tertutup dan siklus Rankine terbuka.
Untuk menghasilkan daya lebih besar dari 1MW, siklus Rankine terbuka memerlukan diameter turbin sangat besar, sedangkan komponen yang tersedia belum memungkinkan untuk menghasilkan daya sebesar itu, alternatif lain yaitu siklus Rankine tertutup dengan fluida kerja amonia atau freon. Berdasarkan letak penempatan pompa kalor, konversi energi panas laut dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, konversi energi panas laut terapung landasan permanen, dan konversi energi panas laut terapung kapal, konversi energi panas laut landasan darat.
Di darat utamanya letak konversi energi panas laut landasan darat alat, hanya sebagian kecil peralatan yang menjorok ke laut. Kelebihan sistem ini adalah pemeliharaannya lebih mudah dan dayanya lebih stabil. Kekurangan sistem jenis agar tidak memerlukan pipa air dingin yang panjang maka membutuhkan keadaan pantai yang curam,. Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru pada tahap percontohan dengan kapasitas 100 W dan dengan fluida kerja freon yang berlokasi percontohan di Kepulauan Nauru dan dilakukan oleh TEPSCO-Jepang,

















Referensi
http://www.pln.co.id/?p=6142, diakses pada minggu 1 November 2015 pukul 8:57 WIB.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar