NAMA : LINDA FITRI ANDRIYANI
NIM : K2513040
PRODI : PTM/B
MATKUL : TURBIN
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN DI
INDONESIA
A.
Energi Angin (Wind Energy)
Energi yang dapat
diperbarui berasal dari matahari kecuali panas bumi. Bentuk tidak langsung dari
energi matahari adalah angina, karena matahari mempengaruhi pemanasan yang
tidak merata pada kerak bumi, dimana hal tersebut mempengaruhi angin.
Pertimbangan konservasi
energi dan lingkungan hidup memang menuntut kita untuk segera dapat
memanfaatkan energi terbarukan yang tersedia dengan mudah dan lebih ramah
lingkungan dibandingkan dengan energi fosil. Tetapi seperti kita
ketahui,khususnya di Indonesia, pemanfaatan potensi energi terbarukan seperti
air, angin, biomasa,panas bumi, surya dan samudera, sampai saat ini masih belum
optimal. Misalnya, untuk kasus energi angin, sampai dengan tahun 2004,
kapasitas terpasang dari pemanfaatan tenaga angin hanya mencapai 0.5 MW dari
9.29 GW potensi yang ada.
Secara umum, pemanfaatan
tenaga angin di Indonesia memang kurang mendapat perhatian. Sampai tahun 2004,
kapasitas terpasang dari pemanfaatan tenaga angin hanya mencapai 0.5 MW dari
9.29 GW potensi yang ada (DESDM, 2005). Padahal kapasitaspembangkitan listrik
tenaga angin di dunia telah berkembang pesat dengan laju pertumbuhan kumulatif
sampai dengan tahun 2004 melebihi 20 persen per tahun. Dari kapasitas terpasang
5 GW pada tahun 1995 menjadi hampir 48 GW pada akhir tahun 2004 tersebar dalam
74,400 turbin angin di sekitar 60 negara (BTM Consults ApS, 2005).
Gambar Laju
pertumbuhan angina di Indonesia
(sumber:
kincir_angin.pdf)
Syarat-syarat energi angin yang dapat digunakan :
(sumber:http://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/2071-pembangkit-listrik-tenaga-angin-di-indonesia)
(sumber:
://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/2071-pembangkit-listrik-tenaga-angin-di-indonesia)
Angin pada kelas nomer 3 adalah batas minimum syarat
angin yang dapat digunakan dan kelas nomer 8 adalah batas maksimum syarat angin
yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik.
B.
Pembangkit Listrik Tenaga
Angin
Hal yang menghasilkan
arus listrik melalui kincir angina disebut Wind Power Sistem. Pada hal ini
tiupan angina dimanfaatkan agar motor listrik dapat berputar. Angin yang
berhembus ditangkap oleh baling-baling, dan dihasilkan putaran motor yang
selanjutnya diubah menjadi energi listrik dari putaran baling-baling tersebut.
(Sumber
:Energi_angin(wind_energy).pdf)
Wind Power System ini terdiri dari empat bagian utama,
yaitu : Rotor, Transmisi, Elektrikal dan juga tower.
C.
Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia
Potensi
energi panas laut yang baik terletak pada daerah antara 6- 9° lintang selatan
dan 104-109° bujur timur. Di daerah tersebut pada jarak kurang dari 20 km dari
pantai didapatkan suhu rata-rata permukaan laut di atas 28°C dan didapatkan
perbedaan suhu permukaan dan kedalaman laut (1.000 m) sebesar 22,8°C. Sedangkan
perbedaan suhu rata-rata tahunan permukaan dan kedalaman lautan (650 m) lebih
tinggi dari 20°C. Dengan potensi sumber energi yang melimpah, konversi energi
panas laut dapat dijadikan alternatif pemenuhan kebutuhan energi listrik di
Indonesia. Energi pasang surut Wilayah Indonesia terdiri dari banyak pulau.
Kawasan Indonesia
mempunyai kawasan pesisir yang melimpah sehingga mempunyai potensi angin yang
melimpah, tetapi total kapasitas yang terpasang kurang dari 800 kilowatt pada
sistem konversi angin saat ini. Hal ini memungkinkan dimanfaatkannya energy
pasang surut di Indonesia karena cukup
banyak selat sempit yang membatasi pulau-pulau di Indonesia maupun teluk yang
dimiliki masing-masing pulau. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran
airnya sangatlah mengguntungkan karena dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan tenaga listrik.
5 kincir angin pembangkit
listrik, masing-masing 80 kilowatt (KW) yang terdapat di Indonesia telah di
bangun. Pada tahun 2007, tujuh unit kincir angin yang memiliki kapasitas yang
sama telah di bangun di empat lokasi yang berbeda-beda. Masing-masing di
Sulawesi Utara dua unit, Pulau Selayar tiga unit, Bangka Beliting, Nusa Penida
dan Bali masing-masing satu Unit. WhyPgen dan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tanggal 14 Mei 2013
mennyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi
untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Potensi tenaga angin yang
tersedia di Indonesia mencapai 9.286 MW akan tetapi sampai saat ini energi
angin yang telah digunakan lebih kurang sebesar 2 MW (BMKG, 2013), pada presentasinya.
Daerah di
Indonesia yang potensial adalah sebagian Pulau Sumatera, pantai selatan Pulau
Jawa, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Papua, kepulauan di Sulawesi, konversi
energi siklus panas laut sebagai pembangkit tenaga listrik, karena pasang
surutnya bisa lebih dari lima meter. Beberapa faktor yang mempengaruhi mekanisme
pusat listrik energi pasang surut diantaranya : lamanya bertiup, arah angin,
kecepatan, dan luas daerah yang dipengaruhi. Oleh karena itu, kuncinya adalah
dalam penelitian mengenai energi ini faktor meteorologi/geofisika. Pada
pemanfaatan energi angin sebagai pembangkit listrik memerlukan daerah yang cukup luas untuk
menampung air laut (reservoir area). Terdapat sisi positif dari konversi energi
ini yaitu tidak menimbulkan polutan bahan-bahan beracun baik ke air maupun
udara, sehingga aman bagi lingkungan. Masih ada energi samudera lain yaitu
energi gelombang, selain panas laut dan pasang surut,
Gambar 1. Aliran angin di Indonesia
Angin di wilayah Indonesia pada umumnya bergerak dari
arah timur menuju arah barat daya dengan kecepatan angin antara 2.5 m/s sampai
dengan 7.5 m/s. Kecepatan angin 7.5 m/s di Indonesia terdapat di daerah
Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Selatan Nusa Tenggara Timur, Laut Jawa,
Laut Bali, Laut Banda, Laut Flores dan Perairan Selatan Merauke.
Sistem konversi
energi yang terjadi akibat perbedaan suhu di permukaan dan di bawah laut
menjadi energi listrik adalah teknologi yang diperlukan konversi energi panas
laut. Di wilayah khatulistiwa konversi energi panas laut untuk pembangkitan
listrik mempunyai potensi yang sangat besar. Karena, sepanjang tahun di daerah
khatulistiwa suhu di bawah laut turun 5-7°C pada kedalaman lebih dari 500 meter
sedangkan suhu permukaan laut berkisar antara 25-30°C. Terdapat dua siklus
konversi energi panas laut, yaitu siklus Rankine tertutup dan siklus Rankine
terbuka.
Untuk
menghasilkan daya lebih besar dari 1MW, siklus Rankine terbuka memerlukan
diameter turbin sangat besar, sedangkan komponen yang tersedia belum
memungkinkan untuk menghasilkan daya sebesar itu, alternatif lain yaitu siklus
Rankine tertutup dengan fluida kerja amonia atau freon. Berdasarkan letak penempatan
pompa kalor, konversi energi panas laut dapat diklasifikasikan menjadi tiga
tipe, konversi energi panas laut terapung landasan permanen, dan konversi
energi panas laut terapung kapal, konversi energi panas laut landasan darat.
Di darat
utamanya letak konversi energi panas laut landasan darat alat, hanya sebagian
kecil peralatan yang menjorok ke laut. Kelebihan sistem ini adalah pemeliharaannya
lebih mudah dan dayanya lebih stabil. Kekurangan sistem jenis agar tidak
memerlukan pipa air dingin yang panjang maka membutuhkan keadaan pantai yang
curam,. Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru pada tahap
percontohan dengan kapasitas 100 W dan dengan fluida kerja freon yang berlokasi
percontohan di Kepulauan Nauru dan dilakukan oleh TEPSCO-Jepang,
Referensi
http://www.pln.co.id/?p=6142, diakses pada minggu 1 November 2015 pukul 8:57 WIB.
http://www.kippln.com/index.php?option=com_content&view=article&id=158:pltb&catid=57:berita&Itemid=264, diakses pada minggu 1 November 2015 pukul 8:57 WIB.
http://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/2071-pembangkit-listrik-tenaga-angin-di-indonesia, diakses pada minggu 1 November 2015 pukul 8:57 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar